Fury
Sutradara: David Ayer
Produksi; Sony Picture

Ideology selalu bicara tentang perdamaian tapi sejarah selalu berisi kekerasan
Perang adalah antitesis humanisme, dalam perang tak pernah ada pemenang yang sesungguhnya karena yang kalah akan terbunuh dan yang menang pasti juga mati. David Ayer seperti sengaja membawa kita untuk melihat langsung pertempuran darat jarak dekat, tank melawan tank, prajurit melawan prajurit, saling membunuh untuk mempertahankan hidup. David
Ayer juga melibatkan mantan kru tank Perang Dunia II Peter Comfort (90), sebagai
penasihat untuk film ini. Tak heran, kita seperti berada langsung didalam tank.
Film ini adalah kisah perjalanan beberapa tentara Amerika yang
ditugaskan digaris depan untuk menggempur Nazi Jerman pada bulan April 1945. Mereka ditugaskan untuk masuk
ke wilayah Jerman dengan bersenjatakan tank baja Sherman, yang diberi nama
Fury.
Sersan Don Wardaddy yang
diperankan apik oleh Brad Pitt dan tiga orang anak buahnya, Boyd Bible Swan (Shia LeBeouf), Grady Travis (Jon
Bernthal) dan Trini Gordo Garcia (Michael Peña) baru saja kehilangan asisten pengemudi
hingga kemudian Norman Ellison yang diperankan oleh Logan Lerman ditugaskan untuk
bergabung dalam tim. Norman adalah seorang juru ketik yang baru 8 minggu
bertugas dimiliter. Drama dimulai ketika remaja itu harus melihat sendiri perang
dan kematian didepannya. Pergumulan emosi dan kepahlawanan menjadi satu dalam
ribuan nyawa yang terkubur.
Sebelum kedatangan Norman, Don
Wardaddy dan anak buahnya melihat perang dengan sinis, antara membunuh atau
dibunuh, tak ada moralitas dalam perang. Mereka bahkan lupa berapa liter darah
yang telah mereka tumpahkan atau berapa kawan seperjuangan yang telah terbunuh.
Mereka tak begitu peduli soal nasionalisme, bagi mereka dimanapun Nazi harus
tumbang.
Secara umum, film itu bertutur
tentang pergolakan psikis para tentara. Bagaimana perang memaksa orang orang
baik harus memburu nyawa dan kematian begitu dekat seperti bayangan yang
mengejar karena setiap detik tak bisa diprediksi apakah esok masih ada atau
tidak.
Setiap ideology adalah
perdamaian tapi sejarah adalah kekerasan, begitu kata Don Wardaddy (Brad Pitt)
ketika memaksa Norman Ellison ( Logan Lerman) untuk menembak tentara Nazi yang
ditangkap. Norman tetap menolak untuk menembak meski akhirnya terpaksa diharus
dia lakukan. Fury tidak menitik beratkan pada sosok Don Wardaddy yang
heroistik. Pertentangan emosi Norman menjadi salah satu pemanis di film ini. Juru ketik muda yang bahkan takut mendengar
bunyi senjata, yang bahkan masih ngeri melihat darah pada akhirnya harus tegas
menerima kondisi dan mulai terbiasa untuk membidik musuh.
David Ayer terbilang sukses
meramu film menjadi tontonan yang menarik bagi para penggemar film film perang.
Meski sedikit membosankan dengan durasi lebih dari dua jam dan alur yang agak
lambat. Keterlibatan Peter Comfort sebagai mantan kru tank Perang Dunia II tak
bisa dianggap biasa. Barangkali karena kehadiran Comfort menjadikan Fury seperti melihat perang dari dalam Tank.
Artikel Terkait
REVIEWS
- The Dirt : Motley Crue dan mereka yg sudah selesai.
- Review Film Captain Marvel: Ketika Perempuan Menjadi Penyelamat Alam Semesta.
- Blackkklansman: Klu Klux Klan, Piala Oscar dan Rasisme
- Review Film Glass 2019: Trilogi ini diakhiri dengan cara yg keterlaluan, Anti Klimaks!
- ESCAPE ROOM: FILM BAGUS NAMUN GAGAL SEJAK ADEGAN PEMBUKA
- Review Film: Bumblebee: Sebuah Anomali dari delusi futuristic menjadi Human Psikologic
- Review film AQUAMAN 2018 : Contoh buruk ketika sebuah perusahaan tergesa-gesa dalam mengejar kompetitornya. Fatal dan Malpraktek.
- Review Film: Widows 2018: Tamparan pada Kesombongan politik kulit putih lewat nyanyian para wanita teraniaya
- Review Film Mortal Engines 2018: Visualisasi Klasik Perang Kelas di era Post Apocalyptik Pasca Digital
- Resensi Film Interstellar: "ketika sumber daya alam menjadi langka, peradaban bumi terancam mundur dan masyarakat agraris diambang kehancuran"
- Resensi Film: John Wick "Keanu Reeves memang ditakdirkan untuk menjadi keren!"
- Resensi Film: Left Behind "Film ini menegaskan kebangkrutan Nicolas Cage "
- Resensi Film: A Walk Among The Tombstones
- Resensi Film Dracula Untold "terkadang pahlawan adalah mereka yang dihujat seperti setan"
- Resensi Film: Annabelle "ini bukan film horor, tapi lebih konyol dari film drama"
- Resensi Film: The Maze Runner
- Resensi Film: Good People
- Perempuan-Perempuan Dalam Kerajaan Rock
- Jump Car Red: Perpaduan Musik dan Monolog Puisi
- IRON MAIDEN: Menjawab Penantian Panjang Para Pengemarnya di Indonesia
- Album of The Day: AC/DC – Iron Man 2
Resensi
- The Dirt : Motley Crue dan mereka yg sudah selesai.
- Review Film Captain Marvel: Ketika Perempuan Menjadi Penyelamat Alam Semesta.
- Blackkklansman: Klu Klux Klan, Piala Oscar dan Rasisme
- Review Film Glass 2019: Trilogi ini diakhiri dengan cara yg keterlaluan, Anti Klimaks!
- ESCAPE ROOM: FILM BAGUS NAMUN GAGAL SEJAK ADEGAN PEMBUKA
- Review Film: Bumblebee: Sebuah Anomali dari delusi futuristic menjadi Human Psikologic
- Review film AQUAMAN 2018 : Contoh buruk ketika sebuah perusahaan tergesa-gesa dalam mengejar kompetitornya. Fatal dan Malpraktek.
- Review Film: Widows 2018: Tamparan pada Kesombongan politik kulit putih lewat nyanyian para wanita teraniaya
- Review Film Mortal Engines 2018: Visualisasi Klasik Perang Kelas di era Post Apocalyptik Pasca Digital
- Dalam Pertempuran Cebong versus Kampret, saya memilih menjadi Nyamuk.
- Spotlight: Film Mainstream paling Nekat yang menyentil Vatikan.
- Review Film September Dawn: Kisah Gereja Mormon dan Keberagaman Kita
- In The Heart of The Sea
- Reviews Film The Stanford Prison Experiment: Ketika Prilaku Manusia Diubah Oleh Kekuasaan
- Resensi Film The Longest Ride: Bahkan Nicholas Sparks memungut cinta di-Black Mountain
- Resensi Film Interstellar: "ketika sumber daya alam menjadi langka, peradaban bumi terancam mundur dan masyarakat agraris diambang kehancuran"
- Resensi Film: John Wick "Keanu Reeves memang ditakdirkan untuk menjadi keren!"
- Resensi Film: Left Behind "Film ini menegaskan kebangkrutan Nicolas Cage "
- Resensi Film: A Walk Among The Tombstones
- Resensi Film Dracula Untold "terkadang pahlawan adalah mereka yang dihujat seperti setan"
- Resensi Film: Annabelle "ini bukan film horor, tapi lebih konyol dari film drama"
- Resensi Film: The Maze Runner
- Resensi Film: Good People
- Perempuan-Perempuan Dalam Kerajaan Rock
2 komentar:
Oemjiiii, sjk kapan loe jd penulis film el?
sejak lama, bahkan jauh sebelum lahir. :D
Post a Comment